Rabu, 15 Mei 2013

FILSAFAT ILMU



MAKALAH FILSAFAT ILMU
FILSAFAT ILMU SEBAGAI CABANG ILMU
Dosen pengampu :Dr. Maufur



Disusun oleh :
1.      Uly Ulfa                        (1111500160)

Kelas : BK/III D



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012









KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah “FILSAFAT ILMU “ yang berjudul “FILSAFAT ILMU SEBAGAI CABANG ILMU” ,tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “FILSAFAT ILMU”.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Maufur selaku dosen mata kuliah ”FILSAFAT ILMU”. selama penyusunan makalah  ini serta pihak-pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu.
Saya juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan pada intinya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan agar dimasa yang akan datang lebih baik lagi.

Terima kasih



Tegal,15 Desember 2012


Penyusun,









DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL………………………………………………………………….
KATA PENGANTAR………………………………………………………………..
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………..

BAB I  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang……………………………………………………………
B.     Maksud Dan Tujuan Pembahasan………………………………………
BAB II  PEMBAHASAN
A.    Pengertian Mengenai Filsafat Ilmu………………………………………
B.     Cabang-cabang Filsafat…………………………………………………..
C.    Metafisika………………………………………………………………….
D.    Ontologi (Teori Alam Dan Tipe-tipe Realitas)…………………………..
E.     Kosmologi (Teori Umum Proses Realitas)……………………………….
F.     Logika……………………………………………………………………...
G.    Epistemologi……………………………………………………………….
H.    Etika………………………………………………………………………..
I.       Estetika…………………………………………………………………….
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Filsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran suatu ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi yang akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan.
Perkembangan filsafat tidak berhenti begitu saja, hingga saat ini kita mengenal berbagai versi dalam pembagian cabang-cabang dari filsafat itu sendiri. Dari sekian banyak versi tersebut, tentulah ada cabang-cabang filsafat yang banyak digunakan saat ini. Oleh karena itu, cabang-cabang filsafat yang banyak digunakan sekarang akan dibahas dalam makalah ini.
B.     Maksud dan Tujuan
Filsafat memiliki berbagai versi dalam pembagiannya. Tentu saja dengan semakin beragamnya pembagian tersebut menjadikan kita cukup sulit untuk fokus dalam mempelajarinya. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memahami dan mempelajari cabang-cabang filsafat ilmu secara sistematis.














BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Mengenai Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi. Selain itu, filsafat ilmu juga berusaha menjelaskan cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode ilmiah, macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
B.      Cabang-Cabang Filsafat
Banyak para filsuf yang membagi filsafat ilmu menjadi berbagai cabang, seperti H. De Vos, Prof. Albuerey Castell, Dr. M. J. Langeveld, Aristoteles, dan
lain-lain. Setiap filsuf memiliki perbedaan dalam membagi cabang-cabang filsafat ilmu. Walaupun ada perbedaan dalam pembagiannya, namun tentu saja lebih banyak persamaanya. Dari beberapa pandangan filsuf tersebut, sekarang filsafat memiliki beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, epistemologi, etika, dan estetika.
C.    Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada atau membicarakan sesuatu dibalik yang tampak. Metafisika tidak muncul dengan karakter sebagai disiplin ilmu yang normatif tetapi tetap filsafati yang ditujukan terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar perangkat dasar kategori-kategori untuk mengklasifikasikan dan menghubungkan aneka fenomena percobaan oleh manusia. Persoalan metafisis dibedakan menjadi tiga, yaitu ontologi, kosmologi dan
antropologi. Untuk saat ini kita hanya membahas mengenai ontologi dan kosmologi.
D.    Ontologi (Teori Alam dan Tipe-Tipe Realitas)
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret atau realistis. Hakekat kenyataan atau realitas bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang, yaitu kuantitatif (menanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?) dan kualitatif (menanyakan apakah kenyataan/realitas tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum). Adapun teori Ontologi utama meliputi:
1.      Materialisme à Objek-objek fisik yang ada mengisi ruang angkasa dan tidak ada yang lainnya. Semua sifat fisik alami tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri.
2.      Idealisme à Hanya pikiran/berpikir, spirit, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan berpikir yang benar-benar nyata (konkret).
3.      Dualisme à Keberadaan berpikir/pikiran dan material adalah nyata dan keduanya tidak saling mengurangi satu dengan yang lain.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
E.     Kosmologi (Teori Umum Proses Realitas)
Kosmologi berkepentingan terhadap cara berbagai benda dan peristiwa yang satu mengikuti cara berbagai benda dan peristiwa lain menurut perubahan waktu (satu benda ditentukan oleh benda lainnya). Satu benda atau peristiwa ditentukan oleh sebab sebelumnya dan tidak dapat dibalik. Determinan-determinan dari peristiwa alam yang dianggap beroperasi dengan cara terakhir tersebut dinamakan Aristoteles sebagai “sebab-sebab final” à final causes à dikenal sebagai antecedent causes.
Determinisme merupakan pandangan tentang apapun yang terjadi bersifat universal, tanpa kecuali, dan secara lengkap ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya. Bila pandangan ini digabung dengan konsepsi materialisme, yaitu semua proses adalah fisik secara ekslusif, maka pandangan deterministik ini dinamakan mekanisme. Deterministik diakui dunia pendidikan internasional sebagai pendekatan yang powerful.
Selain pandangan determinisme, kita perlu mengenal pandangan lain, yaitu teleologi. Teleologi adalah proses yang dianggap ditentukan oleh aneka pengaruh atau sebab akhir (influenced by ends).
F.     Logika
Logika adalah cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Logika membahas tentang prinsip-prinsip inferensia (kesimpulan) yang absah (valid) dan topik-topik yang saling berhubungan. Logika dibagi menjadi dua, yaitu:
1.                           Logika deduktif (deductive form of inference), yaitu cara berpikir di mana pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir silogismus. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut (Suriasumantri. 1988: 48-49). Perkembangan logika deduktif dimulai sejak masa Aristoteles, setelah kontribusi oleh Stoics dan para logikawan lain pada zaman pertengahan, mereka mengasumsikannya sebagai garis besar tradisi Aristotelesian
2.                           Logika induktif (inductive form of inference), yaitu cara berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat khusus. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang khas dan terbatas kemudian diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Prinsip induktif mampu digunakan dalam ilmu terapan pada masa John Stuart Mill dalam metodenya tentang analisis–sebab (causal analysis) bersama dengan prinsip teori peluang dan praktek statistik yang masih menjadi sumber-sumber utama penampilan buku tentang logika induktif.
Banyak para ahli berpendapat bahwa sekalipun sejak 1940-an logika deduktif berkembang tetapi masih belum menyamai taraf yang dicapai oleh logika deduktif. Dalam hal ini, logika deduktif lebih powerful.
G.    Epistemologi
Epistemologi (dari bahasa Yunani episteme = pengetahuan dan logos = kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
H.    Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku (moral) atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik ataupun buruk. Etika dalam kajian filsafatnya dapat diberi arti sebagai tata krama dan sopan santun yang lahir dari pemahaman perbuatan yang baik dan buruk serta sebuah tata aturan yang berlaku dalam masyarakat yang menjadi sebuah kebudayaan yang wajib untuk taat dipatuhi.
I.       Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Estetika disebut juga sebagai “filsafat keindahan” (philosophy of beauty). Dalam Encyclopedia Americana (1973), estetika merupakan cabang filsafat yang berkenaan dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni.









BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi.
Filsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran suatu ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi yang akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan.

















DAFTAR PUSTAKA



9 komentar: