MAKALAH FILSAFAT ILMU
FILSAFAT ILMU SEBAGAI CABANG ILMU
Dosen pengampu :Dr. Maufur
Disusun oleh :
1.
Uly
Ulfa (1111500160)
Kelas : BK/III D
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat
menyelesaikan makalah “FILSAFAT ILMU “ yang berjudul “FILSAFAT ILMU SEBAGAI
CABANG ILMU” ,tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “FILSAFAT
ILMU”.
Saya
ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Maufur selaku dosen mata kuliah
”FILSAFAT ILMU”. selama penyusunan makalah
ini serta pihak-pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan
satu per satu.
Saya
juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya
sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan pada intinya
untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan agar dimasa yang akan datang lebih baik
lagi.
Terima
kasih
Tegal,15
Desember 2012
Penyusun,
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL………………………………………………………………….
KATA
PENGANTAR………………………………………………………………..
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang……………………………………………………………
B.
Maksud
Dan Tujuan Pembahasan………………………………………
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Mengenai Filsafat Ilmu………………………………………
B.
Cabang-cabang
Filsafat…………………………………………………..
C.
Metafisika………………………………………………………………….
D.
Ontologi
(Teori Alam Dan Tipe-tipe Realitas)…………………………..
E.
Kosmologi
(Teori Umum Proses Realitas)……………………………….
F.
Logika……………………………………………………………………...
G.
Epistemologi……………………………………………………………….
H.
Etika………………………………………………………………………..
I.
Estetika…………………………………………………………………….
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat ilmu adalah dua kata yang
saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran suatu
ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat
keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran
bangsa Yunani dari pandangan mitologi yang akhirnya lenyap dan pada gilirannya
rasiolah yang dominan.
Perkembangan filsafat tidak berhenti
begitu saja, hingga saat ini kita mengenal berbagai versi dalam pembagian
cabang-cabang dari filsafat itu sendiri. Dari sekian banyak versi tersebut,
tentulah ada cabang-cabang filsafat yang banyak digunakan saat ini. Oleh karena
itu, cabang-cabang filsafat yang banyak digunakan sekarang akan dibahas dalam
makalah ini.
B.
Maksud
dan Tujuan
Filsafat memiliki berbagai versi dalam
pembagiannya. Tentu saja dengan semakin beragamnya pembagian tersebut
menjadikan kita cukup sulit untuk fokus dalam mempelajarinya. Makalah ini
dibuat dengan tujuan untuk memahami dan mempelajari cabang-cabang filsafat ilmu
secara sistematis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Mengenai Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu
merupakan bagian dari filsafat
yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari
dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya
antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat
menjelaskan masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan
dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana
ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui
teknologi. Selain itu, filsafat ilmu juga berusaha menjelaskan cara menentukan
validitas dari sebuah informasi, formulasi dan penggunaan metode ilmiah,
macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan, serta
implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu
pengetahuan itu sendiri.
B.
Cabang-Cabang
Filsafat
Banyak para filsuf yang membagi filsafat
ilmu menjadi berbagai cabang, seperti H. De Vos, Prof. Albuerey Castell, Dr. M.
J. Langeveld, Aristoteles, dan
lain-lain.
Setiap filsuf memiliki perbedaan dalam membagi cabang-cabang filsafat ilmu.
Walaupun ada perbedaan dalam pembagiannya, namun tentu saja lebih banyak
persamaanya. Dari beberapa pandangan filsuf tersebut, sekarang filsafat
memiliki beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, epistemologi, etika, dan
estetika.
C.
Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan
tentang yang ada atau membicarakan sesuatu dibalik yang tampak. Metafisika
tidak muncul dengan karakter sebagai disiplin ilmu yang normatif tetapi tetap
filsafati yang ditujukan terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar perangkat dasar
kategori-kategori untuk mengklasifikasikan dan menghubungkan aneka fenomena
percobaan oleh manusia. Persoalan
metafisis dibedakan menjadi tiga, yaitu ontologi, kosmologi dan
antropologi. Untuk saat ini kita hanya membahas mengenai
ontologi dan kosmologi.
D.
Ontologi (Teori Alam dan Tipe-Tipe Realitas)
Ontologi merupakan salah
satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi
tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret atau realistis. Hakekat kenyataan atau realitas bisa didekati ontologi dengan dua macam
sudut pandang, yaitu kuantitatif (menanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau
jamak?) dan kualitatif (menanyakan apakah kenyataan/realitas tersebut memiliki
kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga
mawar yang berbau harum).
Adapun teori Ontologi utama meliputi:
1. Materialisme à Objek-objek fisik yang ada mengisi ruang angkasa dan tidak ada yang
lainnya. Semua sifat fisik alami tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri.
2. Idealisme à Hanya pikiran/berpikir, spirit, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
berpikir yang benar-benar nyata (konkret).
3. Dualisme à Keberadaan berpikir/pikiran dan material adalah nyata dan keduanya tidak
saling mengurangi satu dengan yang lain.
Secara sederhana ontologi bisa
dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara
kritis.
E.
Kosmologi (Teori Umum Proses Realitas)
Kosmologi
berkepentingan terhadap cara berbagai benda dan peristiwa yang satu mengikuti
cara berbagai benda dan peristiwa lain menurut perubahan waktu (satu benda
ditentukan oleh benda lainnya). Satu benda atau peristiwa ditentukan oleh sebab
sebelumnya dan tidak dapat dibalik. Determinan-determinan dari peristiwa alam
yang dianggap beroperasi dengan cara terakhir tersebut dinamakan Aristoteles
sebagai “sebab-sebab final” à final
causes à dikenal sebagai antecedent causes.
Determinisme merupakan
pandangan tentang apapun yang terjadi bersifat universal, tanpa kecuali, dan
secara lengkap ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya. Bila pandangan ini
digabung dengan konsepsi materialisme, yaitu semua proses adalah fisik secara
ekslusif, maka pandangan deterministik ini dinamakan mekanisme. Deterministik
diakui dunia pendidikan internasional sebagai pendekatan yang powerful.
Selain pandangan
determinisme, kita perlu mengenal pandangan lain, yaitu teleologi. Teleologi
adalah proses yang dianggap ditentukan oleh aneka pengaruh atau sebab akhir (influenced
by ends).
F.
Logika
Logika adalah
cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Logika membahas
tentang prinsip-prinsip inferensia (kesimpulan) yang absah (valid) dan
topik-topik yang saling berhubungan. Logika dibagi menjadi dua, yaitu:
1.
Logika
deduktif (deductive form of inference), yaitu cara berpikir di mana
pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir
silogismus. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis. Kesimpulan
merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua
premis tersebut (Suriasumantri. 1988: 48-49). Perkembangan logika deduktif
dimulai sejak masa Aristoteles, setelah kontribusi oleh Stoics dan para
logikawan lain pada zaman pertengahan, mereka mengasumsikannya sebagai garis
besar tradisi Aristotelesian
2.
Logika
induktif (inductive form of inference),
yaitu cara berpikir yang dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan
bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat khusus. Penalaran secara
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang khas dan
terbatas kemudian diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Prinsip
induktif mampu digunakan dalam ilmu terapan pada masa John Stuart Mill dalam
metodenya tentang analisis–sebab (causal analysis) bersama dengan
prinsip teori peluang dan praktek statistik yang masih menjadi sumber-sumber
utama penampilan buku tentang logika induktif.
Banyak
para ahli berpendapat bahwa sekalipun sejak 1940-an logika deduktif berkembang
tetapi masih belum menyamai taraf yang dicapai oleh logika deduktif. Dalam hal
ini, logika deduktif lebih powerful.
G.
Epistemologi
Epistemologi (dari bahasa
Yunani episteme =
pengetahuan dan logos = kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat
yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering
diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan,
bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan
keyakinan.
Epistomologi atau teori
pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian,
dasar-dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan
yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia
melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya metode
induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode
dialektis.
H.
Etika
Etika adalah cabang
filsafat yang membicarakan tingkah laku (moral) atau perbuatan manusia dalam
hubungannya dengan baik ataupun buruk. Etika dalam kajian filsafatnya dapat
diberi arti sebagai tata krama dan sopan santun yang lahir dari pemahaman
perbuatan yang baik dan buruk serta sebuah tata aturan yang berlaku dalam
masyarakat yang menjadi sebuah kebudayaan yang wajib untuk taat dipatuhi.
I.
Estetika
Estetika adalah
cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Estetika disebut juga
sebagai “filsafat keindahan” (philosophy
of beauty). Dalam Encyclopedia Americana (1973), estetika merupakan cabang
filsafat yang berkenaan dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan
seni.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat ilmu
merupakan bagian dari filsafat
yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari
dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya
antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat
menjelaskan masalah-masalah seperti apa dan bagaimana suatu konsep dan
pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan,
bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui
teknologi.
Filsafat ilmu adalah dua kata yang
saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran suatu
ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat
keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran
bangsa Yunani dari pandangan mitologi yang akhirnya lenyap dan pada gilirannya
rasiolah yang dominan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_ilmu
(15 November 2009.
09:28)
http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi
(15 November 2009.
09:30)
http://kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/04/cara-membatasi-filsafat-cabang-cabang.html
(15 Novenber 2009.
09:51)
http://images.zanikhan.multiply.com/attachment/0/SP6zSAoKCtcAAFFJOJg1/
Filsafat.doc?nmid=121466252
(15 November 2009. 10:36)
http://uin-suka.info/humas/index.php?option=com_content&task=view&id=60&
Itemid=26 (15 November 2009.
10:54)
http://evysspace.blogspot.com/2009/03/bahasa-dan-logika-berpikir.html
(15 November
2009.11:45)
keren...
BalasHapussip...
BalasHapusseorang konselor harus mampu memahami filsafat ilmu.
BalasHapusbaguzz... post lagi yah yg banyak.... :)
BalasHapusterimaksih postingnya sangat bermanfaat
BalasHapushahahahaaaa....... bagusss ngebb..
BalasHapusbagus,,,,,
BalasHapusterlalu lngkap
BalasHapusmayannn
BalasHapus